Desaku Yang Ku Cinta…………..
Malam ini pantai kota
tua nan indah menatap kosong diriku
Raganya terasa lelah dan indranya terasa mati
Cabaran sela datang tiba-tiba
Hati ini masih sulit untuk percaya
pantai kota tua nan
indah sesaat menjadi mencekam
Hanya dengan membasuh
muka, menghirup napas , lalu pejamkan mata
Maka hati sedikit
melega
Walau Kadang mengiba
seperti sungai gersang memandang langit
Namun diriku harus
tetap tersenyum dan meletakkan tangan
ini di dada
Teruntuk desaku yang ku cinta,
yang tengah di rudung derita……… terimakasih kepada teman-teman yang membatu
dan tak lupa juga kepada seberkas cahaya
hati yang kutitipkan, dan bersemayam dibalik kekuatan ini. terima kasih ata
bantuannya……..
Lazuardi Langit Dalam Lukisan
Seperti lazuardi langit dalam lukisan
Ada cahaya indah ter lihat malam tadi
Satu dilangit
Dan satu di wajahnya
Kali ini hujan datang
Rintiknya menjadi untaian kata
Yang slalu mengalir indah
Membawa diri ke dunia mimpi
Kala reda
Angin datang sepoi dan ber embun
Menyejukan jiwa
Dngan seberkas cahaya hati
Teruntuk seberkas cahaya hati yang kutitipkan,
dan bersemayam dibalik kekuatan ini. terima kasih……… ^_^
Jakarta, 05 Juli 2006
bias warna luna malam
kini malam-malam menua sudah. Membiaskan warna luna malam yang tengah bertengger kaku. Dan tetes-tetes embun mulai menyepa jendela kamar. Suara-suara alam mulai berisik meruntuhkan bangunan mimpi yang sudah merapuh. Dan burung-burung malampun terdengar semakin menghilang.
Cerca surya yang indah slalu kembali hadir setiap hari, setiap jam menit bahkan detik selalu dengan semangat baru. Pagi ini bukan pagi yang lalu pagi esok bukan lah pagi sekarang. Setap waktu adalah kesempetan emas untuk mengukir fragmen walau hanya secerca, yakini dan kerjakan hanya itu yang ku punya.
Teruntuk seberkas cahaya hati yang kutitipkan, dan bersemayam dibalik kekuatan ini. terima kasih……… ^_^
Jakarta, 30 Juni 2006
Feel the beat of JaZZ…………
June 7, 2006, 5:51 pm
Filed under:
Music
JAZZ DAN MUSIK POPULER DALAM
LINTASAN SEJARAH
Tulisan singkat ini, sejujurnya,
lahir dari kegelisahan penulis sebagai seorang penggemar dan pemerhati musik
jazz, oleh masih sangat minimnya perhatian masyarakat, terutama Indonesia,
terhadap jenis musik ini. Seperti halnya musik klasik, sebagian besar orang
memang cenderung menganggap jenis musik ini terlalu berat, abstrak, dan sulit
untuk dicerna. Disamping itu, jazz acap kali distereotipkan sebagai musik kaum
elite atau kaum gedongan, walaupun kenyataannya di kalangan “gedongan” sendiri,
sebenarnya penggemar ataupun penikmat musik jazz masih merupakan golongan
minoritas. Bahkan di kalangan kaum muda dewasa ini sudah umum dijumpai anggapan
bahwa jazz adalah “musik orang tua yang membosankan dan membuat kita
mengantuk”.
Munculnya imej bagi jazz
yang kurang menguntungkan ini berpangkal pada sebuah pengertian yang dominan
bahwa fungsi utama musik adalah untuk menghibur dan memberikan kepuasan kepada
khalayak, dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Adanya perkembangan teknologi,
yaitu munculnya alat perekam suara pada akhir abad –19 telah mengakibatkan
pergeseran besar dalam seni musik dunia : jika pada awalnya musik merupakan
ekspresi murni perasaan manusia maka kini musik menjadi produk industri rekaman
dan komoditas dagang. Kapitalisme industri musik juga telah menggeser
musik-musik lama yang menunjukkan identitas kultural masing-masing etnis /
bangsa di dunia, dan sebagai gantinya muncullah jenis musik baru yang mengatasi
dan meluruhkan perbedaan-perbedaan kultural yang ada, yaitu apa yang disebut
“musik populer”. Tanpa mengesampingkan kreativitas dari musisi pop (hanya
sebagian kecil musisi pop memiliki kreativitas orisinal !), sesungguhnya tidak
sedikit komposisi pop merupakan bentuk-bentuk yang terstandarisasi atau
reproduksi dari trend-trend sesaat, dan fenomena ini cenderung berlangsung
secara global.
Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa musik jazz muncul sebagai peralihan
dari musik “tradisional” menuju musik “populer”. Pada awal perkembangannya,
jazz dapat diketegorikan sebagai sebuah contoh musik tradisi, dimana musik ini
sangat mewakili ekspresi dan kultur masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat.
Sebagai musik yang mewakili sebuah masyarakat yang terdiskriminasi, maka
perkembangan jenis musik ini juga akan mengalami nasib kurang lebih sama. Timbulnya
aliran swing pada dekade 1930-an membawa perubahan penting dalam cara orang
memandang musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz
di antara berbagai musik lain. Era swing ditandai dengan munculnya jazz band
dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat sebagai sebuah
bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam jazz, walaupun tetap
mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti improvisasi, sinkopasi dan blue
note (nada yang merendah pada not ketiga dan ketujuh, merupakan ciri khas
musik blues dan jazz). Dengan
perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap musik “barbar” karena identik
dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan telah menjadi musik
populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa, dan pada masa itu
pula jazz mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti Eropa ataupun Asia. Tidak
sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi handal semacam George
Gershwin, Cole Porter atau Duke Ellington diangkat
menjadi soundtrack film, dan komposisi-komposisi tersebut sebenarnya
merupakan lagu pop pada zamannya.
Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut
menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa diantaranya
seperti Charlie Parker dan Dizzy Gillespie lantas
memperkenalkan bebop, sebuah style baru dalam jazz pada sekitar akhir dekade
1940-an. Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi dalam musik jazz,
karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit baru yang bertujuan
mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik “seni” khas kaum negro. Aliran
baru ini ditandai dengan berkembangnya formasi band / combo secara lebih
minimalis dengan konsekuensi semakin luasnya ruang bagi improvisasi solo
masing-masing pemain. Disamping gaya swing dengan formasi big band-nya, bebop
dan beberapa variasi yang muncul kemudian (hard bop, cool jazz, dan sebagainya)
menjadi aliran utama (mainstream) dan pusat dari perkembangan jazz dunia hingga
masa kini.
Semenjak “revolusi” bebop, jazz agaknya cenderung berkembang menjadi sebuah
genre yang lebih eksklusif daripada sebelumnya dan makin tampak terpisah dari
berbagai jenis musik lain. Memang, jazz kemudian benar-benar berkembang menjadi
sebuah musik “seni” dengan tingkat kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik
klasik. Pada masa-masa sekarang ini akan lebih banyak dijumpai musisi jazz
jebolan sekolah-sekolah musik, walaupun kenyataannya para dedengkot awal jazz
hampir semuanya belajar bermusik secara otodidak. Sebagai sebuah genre musik
yang makin membutuhkan keseriusan, maka tidak mengherankan apabila jazz mulai
agak dijauhi khalayak. Apalagi pada saat itu, trend rock’n roll makin merajai
blantika musik populer dunia. Jika pada tahun 1940-an, jazz dapat dijumpai pada
komunitas tempat hiburan umum dan pesta-pesta dansa, sejak sekitar tahun 1950
dan selanjutnya akan terasa “bergeser” menuju komunitas intelektual dan
akademisi, dimana mereka semakin cenderung memperlakukan musik ini seakan
sebuah “disiplin ilmu” tersendiri. Jika ditelaah lebih lanjut, adanya revolusi
bebop setidaknya membawa beberapa dampak positif : Pertama, di tengah iklim
rasialisme yang masih kuat hingga tahun 1960-an (ingat kasus tertembaknya Martin
Luther King, pejuang kulit hitam AS pada tahun 1968 !), jazz mulai
dikategorikan sebagai bagian dari “budaya tinggi”, disaat musik rock yang
diangkat kaum kulit putih justru lebih menjadi bagian dari “budaya massa”.
Kedua, dengan sedikit melepaskan diri dari bentuk orkestrasi ala swing akan
memungkinkan para musisi jazz melakukan eksplorasi-eksplorasi baru dengan
mengadaptasikan unsur dari musik-musik yang dianggap dapat memperkaya jazz.
Tanpa bebop, mungkin tidak akan pernah ada jazz fusion, avant garde atau world
music yang mengeksplorasi musik-musik etnis dari berbagai belahan dunia.
Pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz senantiasa
kontradiktif dengan musik populer (rock dan pop), dimana jika seseorang menjadi
penggemar salah satu jenis musik ini biasanya akan menolak yang lainnya. Yang
kurang diketahui umum adalah bahwa kedua jenis musik tersebut memiliki hubungan
satu sama lain yang saling mempengaruhi. Bukankah jazz maupun rock tumbuh dari
akar yang sama, yakni blues ? Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa
lagu-lagu The Beatles telah banyak dibawakan oleh para musisi
jazz sebagai lagu standar. Atau bahwa Sting, pentolan grup New
Wave era 80-an, The Police, adalah juga seorang musisi
jazz yang handal. Akibat interaksi antara jazz dan musik-musik hiburan terbukti
telah melahirkan berbagai sintesis baru yang memperkaya nuansa baik dalam jazz
maupun rock. Bagi para musisi pop atau rock yang mengadopsi elemen jazz akan
memberi mereka suatu nilai lebih karena dengan demikian akan dianggap lebih
bermutu, sementara sebaliknya bagi kalangan musisi jazz, dengan mengadopsi
unsur musik populer akan menyebabkan karya mereka lebih memiliki daya jual.
Munculnya berbagai bentuk sintesis antara jazz dan musik hiburan ini sering
menjadi bahan perdebatan di kalangan kritikus musik, mengenai pengkategorian
yang menjadi semakin kabur karenanya. Sejak sekitar tahun 1980-an, berbagai
aliran baru ini diberi nama Adult Contemporary (AC), agaknya untuk
menunjukkan bahwa musik ini ditujukan untuk kalangan usia tertentu yang
dianggap telah “dewasa”, biasanya usia 30 tahun ke atas.. Musik-musik yang dapat
dikategorikan sebagai AC ini meliputi :
- Fusion,
yang lahir sekitar akhir dekade 1960-an, ketika Miles Davis, seorang
eksponen bebop dan cool jazz mempopulerkan sebuah varian baru jazz dengan
mengadopsi unsur rock dan soul / R&B. Kepeloporan Miles dilanjutkan
oleh musisi-musisi generasi di bawahnya. Salah seorang yang paling sukses
adalah Chick Corea dimana ia mempopulerkan penggunaan instrumen elektronis
dalam jazz, sehingga fusion kemudian hampir tidak dapat dilepaskan dari
ciri (elektronis) tersebut. Pada awalnya, fusion masih cukup sarat dengan
improvisasi jazz, akan tetapi kemudian semakin mengarah pada pop dengan
jenis komposisi yang disederhanakan untuk lebih menarik selera pasar.
Jenis terakhir ini kemudian lebih populer dengan istilah smooth jazz atau
terkadang disebut pula contemporary jazz.
- “Jazzy”,
yang berarti “agak-agak ngejazz” atau “sedikit bernuansa jazz”. Umumnya
istilah ini dipergunakan untuk menyebut musik populer yang mengadopsi
unsur jazz, umumnya pada progresi chord (yang mewakili unsur “blue note”)
maupun irama (rhythm) yang sering dipergunakan dalam jazz misalnya swing,
soul, bossanova dan sebagainya. Beberapa pengusung awal jazzy antara lain
kelompok Blood, Sweat & Tears (BS&T) dan
Chicago
sekitar tahun 1968. Artis-artis jazzy memiliki latar belakang beraneka
ragam.
Ada
sebagian artis/musisi yang memang memilih jazzy sebagai konsep musiknya,
ada pula yang menjadi “jazzy” hanya karena kolaborasinya dengan
musisi-musisi jazz. Dengan demikian, warna musiknya akan beraneka ragam.
Salah satu varian yang paling populer belakangan ini adalah acid jazz,
dimana aliran musik baru ini konon merupakan hasil “ulah” para DJ (disc
jockey) dalam menciptakan suatu jenis musik dance dengan memasukkan unsur
jazz, soul, hip hop, dan funk dalam satu komposisi/lagu. Acid jazz yang
dibawakan oleh grup seperti Brand New Heavies dan Incognito, dengan
beat-nya yang dinamis ini dengan segera memperoleh sambutan dari kalangan
pendengar yang lebih muda.
Dari ilustrasi historis yang sangat singkat ini kiranya dapat diperoleh sebuah
pengertian bahwa jazz tidak melulu merupakan jenis musik serius dan
membosankan. Kiranya lebih tepat jika dikatakan bahwa jazz merupakan sebuah
proses “tarik ulur” antara tradisi musik seni / klasik yang bersifat elitis
dengan musik hiburan yang mewakili aspirasi khalayak lebih luas. Dari proses
tarik ulur inilah kemudian muncul banyak sekali varian ataupun aliran dalam
jazz yang makin memperkaya khazanah musik ini. Sesungguhnya, jazz menawarkan
keanekaragaman dan eksplorasi-eksplorasi musikal yang sayang apabila diabaikan
begitu saja, apalagi bagi generasi muda yang biasanya paling memiliki rasa
ingin tahu. Akhir kata penulis
ucapkan : selamat mencoba !
Jazz In Love
ACID JAZZ
1. Still a Friend of Mine – INCOGNITO
2. Dream Come True – BRAND NEW HEAVIES
3. Girl Overboard – SNOWBOY
4. Canned Heat - JAMIROQUAI
5. Stepping Into My Life – THE JAMES TAYLOR QUARTET
6. Sweet Feelings – ESPERANTO
JAZZ STANDARDS
1. Love Is Here To Stay – ELLA FITZGERALD & LOUIS ARMSTRONG
2. Round Midnight – THELONIUS MONK
3. Route 66 – GRADY TATE
4. Stardust – HELEN HUMES
5. Summertime – JOE HENDERSON feat. CHAKA KHAN
6. Sweet
Lorraine
– NAT KING COLE
7. My Funny Valentine – MILES DAVIS
8. How High The Moon – DEE-DEE
BRIDGEWATER
9. Mack The Knife – LOUIS ARMSTRONG
10.
Spain
– AL JARREAU
SWING
1. Route 66 – THE
MANHATTAN
TRANSFER
2. Do Nothing Till You Hear From Me – ROBBIE WILLIAMS
3. L o v e – NATALIE COLE
4. Come Rain Or Come Shine – DIANE SCHUUR
5. Beyond The Sea – GEORGE BENSON feat. COUNT BASIE ORCHESTRA
6. Let’s Fall In love – DIANA KRALL
7. Goin’ home – AL JARREAU & TAKE 6
BALLADS
1. Misty – SARAH VAUGHAN
2. Unforgettable – NATALIE COLE feat. NAT KING COLE
3. What A Wonderful World – KENNY G & LOUIS ARMSTRONG
4. Love Dance – DIANE SCHUUR
5. Tears In Heaven – JOSHUA REDMAN feat. PAT METHENY
6. For Sentimental Reason – SYAHARANI
7. You’ve Changed – GEORGE MICHAEL
BOSSA NOVA
1. The Girl From Ipanema – STAN GETZ feat. JOAO & ASTRUD GILBERTO
2. Agua de Beber – ASTRUD GILBERTO
3. Blue Bossa – BENNY CARTER
4. Mas Que Nada – SERGIO MENDES
5. Desafinado – EDEN ATWOOD
6. Corcovado (Quiet Night Of Quiet Stars) – LAURA FYGI
7. Waters Of March – AL JARREAU & OLETA ADAMS
8. One Note Samba – EARL KLUGH
JAZZ FUSION & FUNK
1. Night Rhythms – LEE RITENOUR
2. Invitation – SHAKATAK
3. Brazilian Love Affair – GEORGE DUKE
4. Come With Me – TANIA MARIA
5. Daddy’s Gonna Miss You – YELLOWJACKETS
6.
Rio
Rush – FOURPLAY
SMOOTH JAZZ
1. Antonio’s Song – MICHAEL FRANKS
2. Angela – BOB JAMES
3. Springtime Laughter – SPYRO GYRA feat. BASIA
4. Between The Sheets – FOURPLAY feat. CHAKA KHAN
5. You Make Me Smile – DAVE KOZ
6. Midnight In
San Juan
– EARL KLUGH
7. This Masquerade – GEORGE BENSON
8. After The Love Has Gone – DAVID BENOIT/R. FREEMAN feat. PHIL PERRY
JAZZY TUNES
1. Smooth Operator – SADE
2. Just The Two Of Us – BILL WITHERS & GROVER
WASHINGTON
JR
3. When We Make A Home – SADAO WATANABE
4. Baby You’re Mine – BASIA
5. After The Love Has Gone – EARTH WIND AND FIRE
6. Through The Fire – CHAKA KHAN
7. By The Time This Night Is Over – PEABO BRYSON & KENNY G
JAZZ
INDONESIA
1. Reborn – INDRA LESMANA
2. Moliendo Café – BUBI CHEN
3. Dia – SYAHARANI
4. Menanti – TOHPATI feat. LITA ZEIN
5. Night In Samarinda – CANIZZARO
6. Take Off To
Padang
- KARIMATA
7. Satu Nuansa Jiwa – ERMY KULLIT
INDONESIAN JAZZY VOCALS
1. Jangan Menggoda Lagi – PETER F GONTHA & SYAHARANI
2. Andai Saja – IGA MAWARNI
3. Bisikan Hati – ANDIEN
4. Keraguan – 2D (DIAN PP / DEDDY DHUKUN)
5. Dara - CHASEIRO
6. New Sakura – FARIZ RM
7. Semurni Kasih – DIAN PRAMANA PUTRA
8. Kesan – ERMY KULLIT
9. Kembali – GLENN FREDLY
ACID JAZZ
INDONESIA
1. Satu Mimpiku – THE GROOVE
2. Dan Senyumlah – SINGIKU
3. Denganmu – BUNGLON feat. NERI PER CASSO
4. Interaksi – HUMANIA
5. Universal - CLOROPHYL
oleh: Pradipto Niwandhono